Opini

Diantara Ambisi dan Realita, Langkah Prabowo dalam Manuver BOP

26
×

Diantara Ambisi dan Realita, Langkah Prabowo dalam Manuver BOP

Sebarkan artikel ini

Langkah Presiden Prabowo Subianto membawa Indonesia bergabung ke Board of Peace (BoP) yang ditandatangani di Davos pada 22 Januari 2026 merupakan isu diplomasi yang kompleks, memicu perdebatan apakah ini sebuah strategi elit (hedging) atau salah langkah (blunder).

Berikut adalah analisis dari kedua perspektif tersebut berdasarkan situasi terkini,Argumen Strategi Elit (Strategi Hedging)

Upaya Perdamaian Palestina Pemerintah menegaskan langkah ini diambil setelah pertimbangan matang untuk mengupayakan perdamaian dan kemerdekaan Palestina, di mana BoP dinilai berpotensi memberikan hasil yang tidak mampu dicapai oleh PBB.

Posisi Tengah (Hedging)Masuknya Indonesia ke BoP dipandang sebagai strategi hedging posisi tengah atau lindung nilai untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah geopolitik yang dinamis, khususnya di bawah administrasi AS yang baru.

Proaktif di Timur TengahDalam silaturahmi dengan ulama dan ormas Islam, Prabowo memaparkan strategi ini sebagai langkah proaktif untuk mendorong perdamaian, khususnya di Timur Tengah.

Argumen Salah Langkah (Blunder/Hilang Arah)

Ketidaksesuaian dengan Aspirasi Publik Sebagian pihak menilai sikap bertahan di BoP tidak sejalan dengan aspirasi publik dan diplomasi tradisional Indonesia, sehingga menimbulkan keraguan akan efektivitasnya.

Blunder Diplomasi: Beberapa pengamat menganggap keterlibatan ini sebagai potensi blunder dalam diplomasi karena berisiko mengabaikan prinsip bebas aktif.

Adanya Syarat untuk Keluar Terdapat tekanan, bahkan ancaman dari posisi pemerintah, untuk keluar dari BoP jika keanggotaan tidak menguntungkan posisi Indonesia dan Palestina, yang mengindikasikan adanya keraguan atau evaluasi ketat atas langkah ini.

Kesimpulan

Keputusan Prabowo masuk ke BoP adalah strategi elit yang berisiko tinggi (high-risk strategy). Ia mencoba menggunakan jalur alternatif (BoP) untuk memecah kebuntuan konflik Palestina, namun langkah ini menuntut pembuktian hasil yang nyata. Jika berhasil memberikan dampak bagi kemerdekaan Palestina, ini akan dianggap masterstroke (strategi elit), namun jika sebaliknya, akan dinilai sebagai kesalahan langkah.

Oleh : Ahmad Zaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *