Komedi sejak lama menjadi satu medium kritik sosial. Dari kesenian ludruk, sentilan Warkop DKI, sampai era stand up comedy
Saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kritik sosial muncul ke permukaan. Kritik sosial bisa diartikan sebagai ungkapan yang menyoroti atau mengoreksi kondisi masyarakat dan kebijakan pemerintah. Tujuannya, mengingatkan penguasa atau siapa pun yang berwenang agar keadaan jadi lebih baik.
Ada banyak cara menyampaikan kritik sosial. Dewan Perwakilan Rakyat, baik di tingkat pusat maupun daerah, menjadi jalur formal. Namanya saja wakil rakyat, mereka seharusnya terbuka untuk beraudiensi saat warga mendatangi untuk membahas kebijakan yang keliru, termasuk lewat demonstrasi.
Di luar jalur institusional itu, kritik sosial bisa dilontarkan dalam berbagai medium. Lagu-lagu Iwan Fals dan puisi-puisi Wiji Thukul menjadi contoh nyata. Komedi atau panggung lawak juga bisa.
Sejak lama, ludruk di Jawa Timur memadukan humor dengan sindiran kehidupan rakyat kecil. Begitu juga lawakan Srimulat. Warkop DKI secara cerdas menyelipkan kritik sosial lewat film-film mereka yang hadir di tengah ketatnya sensor media Orde Baru. Misalnya, bagaimana Dono, Kasino, dan Indro yang digambarkan hidup pas-pasan dibuat susah oleh birokrasi yang berbelit-belit dan meminta uang pelicin.
Kini, kritik sosial menjadi menu utama di banyak panggung stand up comedy. Contoh paling nyata adalah Mens Rea. Pergelaran akbar ini digalang Pandji Pragiwaksono di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025—bersamaan dengan unjuk rasa besar yang melanda Jakarta dan kota-kota lain.
Bagaimana Pandji cs menyindir pemerintah di depan 10 ribu penonton pada malam itu? Mengapa kritik sosial yang dilontarkan para komika cenderung lebih diterima para pejabat ketimbang pengunjuk rasa? Baca hasil liputannya di “Beda Kritik lewat Komedi dan Demonstrasi”.
Sumber : Tempo
Post Views: 184