Sistem pertahanan sekaligus pencegat rudal Iron Dome milik Israel kembali kebobolan setelah rentetan serangan Iran mampu menembus sejumlah kota di negeri Zionis itu dalam beberapa hari terakhir.
Iran melancarkan serangan rudal balistik yang signifikan ke ibu kota Israel, Tel Aviv, dan lokasi lain sebagai balasan atas Operasi Rising Lion yang pada Jumat (13/6/2025) menargetkan situs nuklir dan militer Iran dan melenyapkan pemimpin militer utama Iran.
Serangan rudal Iran dimulai tak lama setelah pidato yang disiarkan televisi oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang bersumpah bahwa angkatan bersenjata negaranya akan memberikan pukulan telak ke Israel dan memperingatkan kehancuran negara itu karena serangannya.
Pada Sabtu (14/6/2025), media Israel, Haaretz, melaporkan rudal Iran berhasil menghantam Distrik Kirya di Tel Aviv. Daerah ini dikenal sebagai markas Pasukan Pertahanan (IDF) dan Kementerian Pertahanan Israel.
Insiden tersebut lalu memicu pertanyaan serius soal kemampuan Iron Dome, sistem pertahanan udara negeri Zionis itu.
Iron Dome adalah sistem pertahanan rudal canggih yang dirancang untuk mencegat dan menghancurkan roket jarak pendek dan peluru artileri. Sistem tersebut telah menyaksikan ribuan pencegatan rudal sejak pertama digunakan dengan tingkat keberhasilan yang diklaim 90 persen.
Namun, Iron Dome menjadi sorotan luas sejak Israel melancarkan agresi ke Palestina. Sejak saat itu, milisi di Lebanon, Hizbullah, dan milisi di Palestina, Hamas, menggempur negara pimpinan Benjamin Netanyahu sebagai bentuk dukungan ke warga Gaza.
Pada Oktober 2024, militer Iran mengeklaim 90 persen rudal mengenai sasaran termasuk pangkalan udara dan situs strategis Israel lain. Serangan Iran pada pertengahan Juni ini bahkan telah mencapai daerah tempat kantor pusat IDF dan Kementerian Pertahanan berada.
Berikut Beberapa Alasan Utama tentang Keterbatasan Iron Dome Serangan dalam jumlah besar
Menurut Modern War Institute, Iron Dome dapat kewalahan oleh serangan dalam ‘jumlah besar’ –ketika musuh meluncurkan sejumlah besar roket secara bersamaan dari berbagai arah.
Sistem ini memiliki jumlah pencegat yang terbatas dan hanya dapat menangani volume tertentu sekaligus, jadi jika jumlah roket yang masuk melebihi kapasitasnya, beberapa pasti akan berhasil menembusnya. Cara ini yang dilakukan Iran, Houthi, dan bahkan Hamas dalam menyerang Israel.
Mengutip ABC News, analis senior di Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis, menyebut Iron Dome bisa kewalahan menghadapi serbuan ratusan rudal dan drone, dalam satu waktu bersamaan.
Terlebih, Iran menggunakan kombinasi sejumlah rudal termasuk jenis hipersonik dan drone-drone canggih untuk menembus pertahanan udara Israel.
Davis menjelaskan jumlah rudal pencegat Iron Dome terbatas sehingga jika diserbu secara bersamaan ada potensi sistem ini keteteran atau jebol.
“Jadi salah satu cara untuk mengalahkannya adalah dengan membuatnya kewalahan. Dan itu adalah kelemahan dari sistem pertahanan udara mana pun,” ujar Davis pada Oktober 2023.
Batasan amunisi pencegat
Selain itu, Iron Dome mengandalkan rudal pencegat, yang mahal dan jumlahnya terbatas. Jika rentetan serangan berkelanjutan atau sangat besar, sistem dapat kehabisan pencegat, seperti yang terjadi pada serangan Hamas dan Houthi.
Sistem diprogram untuk menyerang hanya roket yang lintasannya mengancam daerah berpenduduk atau infrastruktur penting. Roket yang menuju lapangan terbuka atau zona tak berpenghuni diabaikan, yang terkadang dapat disalahartikan sebagai ‘kegagalan’ jika roket tersebut masih menyebabkan kerusakan atau korban.
Untuk efektivitas maksimum, pencegat Iron Dome harus mendekati roket yang datang secara langsung untuk menghancurkan hulu ledaknya. Jika pencegat menyerang dari samping atau belakang, kemungkinan menghancurkan hulu ledak akan turun drastis.
Analisis jejak kondensasi dan pola keterlibatan telah menunjukkan bahwa banyak pencegat tidak mencapai geometri keterlibatan yang optimal, sehingga mengurangi efektivitas sistem.
Sistem ini kurang efektif terhadap roket jarak sangat pendek dan lintasan rendah, yang memberikan waktu peringatan lebih sedikit dan lebih sulit bagi sistem untuk mencegat.
Ketidakseimbangan biaya
Setiap pencegat Iron Dome mahal, sementara roket yang dicegatnya sering kali murah dan buatan sendiri. Ketidakseimbangan biaya ini mendorong penyerang untuk menggunakan rentetan serangan massal.
Musuh mengadaptasi taktik mereka, seperti menggunakan kawanan drone atau mencampur jenis roket, untuk mengeksploitasi kelemahan sistem.
Iron Dome adalah sistem yang sangat efektif dalam parameter desainnya tetapi tidak sempurna. Kerentanannya –terutama terhadap serangan saturasi, batas amunisi, dan area cakupan– berarti bahwa tidak ada pertahanan rudal yang dapat menjamin perlindungan penuh, terutama terhadap musuh yang gigih dan adaptif.
Pejabat Israel telah lama menunjukkan bahwa tidak ada sistem pertahanan yang sempurna, dan bahwa arsitektur pertahanan udara mereka dirancang untuk berfokus pada perlindungan pusat populasi dan infrastruktur vital.
Dalam model seperti itu, sistem seperti Iron Dome diprogram untuk hanya mencegat proyektil yang mungkin mengenai area sensitif atau berpenduduk, dan membiarkan proyektil lain jatuh di area tak berpenghuni.
Namun, serangan baru-baru ini di dekat Kirya dan kawasan permukiman lain, termasuk kilang minyak terbesar di Haifa, memicu pertanyaan baru mengenai sistem yang kewalahan atau kalah karena ancaman yang terus berkembang.
Sumber : inilah.com












